GLOBALINSIGHT, LAMONGAN – Fenomena darurat kesehatan ginjal tengah melanda Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sepanjang tahun 2026, sebanyak 280 warga terpaksa menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah secara rutin di fasilitas kesehatan, termasuk di RSUD dr Soegiri Lamongan. Mayoritas penderita justru didominasi oleh kelompok masyarakat usia produktif hingga pra-lansia, yakni rentang usia 35 hingga 60 tahun.
Fenomena ini mengejutkan publik karena dialami oleh warga yang berada pada masa puncak produktivitas kerja dan penopang ekonomi keluarga. Kondisi ini menuntut perhatian serius, baik dari jajaran medis, pemerintah daerah, maupun kesadaran pribadi masyarakat luas.
Direktur RSUD dr Soegiri Lamongan, dr. Abdur Rohman, Sp.PD, M.EK, menjelaskan bahwa gagal ginjal kronis memiliki julukan medis sebagai silent disease atau penyakit yang merusak secara diam-diam. Organ ginjal sering kali tidak memberikan gejala nyeri yang menyengat pada tahap awal, sehingga banyak penderita tidak menyadari bahwa fungsi organ mereka telah menurun drastis.
Menurut dr. Abdur Rohman, pasien umumnya baru menyadari kondisi gawat tersebut saat kerusakan ginjal sudah memasuki stadium akhir. Pada tahap ini, saringan halus di dalam ginjal telah rusak parah, sehingga racun uremik menumpuk di dalam aliran darah dan mewajibkan penderita bergantung pada mesin cuci darah.
Secara medis, pemicu utama melonjaknya kasus gagal ginjal di Lamongan selaras dengan tren nasional. Penyakit metabolik degeneratif seperti diabetes melitus (kencing manis) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) menjadi penyebab paling dominan. Selain itu, riwayat penyakit batu ginjal menahun serta keganasan pada organ urogenital turut berkontribusi sebagai penyebab sekunder.
Namun, di luar faktor penyakit metabolik, terdapat pula faktor gaya hidup harian yang tergolong sepele namun berdampak fatal. Salah satunya adalah kebiasaan sering menahan buang air kecil akibat kesibukan kerja atau enggan beranjak dari tempat tidur.
Kebiasaan menahan kencing yang berlangsung menahun dapat memicu timbulnya Infeksi Saluran Kemih (ISK) serta pembentukan batu ginjal dari endapan mineral yang mengkristal. Tekanan balik cairan kemih ke organ atas secara berkala pada akhirnya merusak jaringan ginjal secara permanen.
Di tengah maraknya informasi kesehatan, RSUD dr Soegiri juga memberikan klarifikasi objektif mengenai beberapa mitos yang jamak dipercayai masyarakat lokal. Banyak warga menganggap kebiasaan konsumsi minuman dingin atau es serta minum kopi sebagai penyebab utama kerusakan ginjal.
Secara medis, minum air es tidak merusak fungsi ginjal karena tubuh memiliki mekanisme alami untuk menyesuaikan suhu cairan sebelum diserap organ dalam. Begitu pula dengan konsumsi kopi, bagi individu dengan kondisi fisik yang sehat, minum kopi dalam batas wajar 1 hingga 3 cangkir sehari tergolong aman dan tidak langsung merusak ginjal.
Untuk mencegah kerusakan fatal, masyarakat diimbau lebih peka terhadap sinyal awal yang diberikan tubuh. Gejala awal kebocoran protein pada saringan ginjal dapat dicermati saat buang air kecil, seperti urine yang tampak berbusa atau berwarna pekat gelap menyerupai teh tua, bahkan kemerahan.
Tanda fisik lainnya meliputi pembengkakan ringan di area kantung mata saat bangun pagi, pergelangan kaki yang membengkak, rasa gatal hebat pada kulit tanpa sebab, mual, kehilangan nafsu makan, hingga tubuh lemas akibat gejala anemia.
RSUD dr Soegiri menekankan pentingnya langkah pencegahan secara disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Langkah dasar yang efektif meliputi pemenuhan konsumsi air putih yang cukup harian, pembatasan konsumsi garam, serta menghentikan kebiasaan minum obat pereda nyeri tanpa resep dokter.
Masyarakat juga diminta menghentikan kebiasaan merokok, menjaga berat badan ideal melalui olahraga ringan seperti jalan kaki atau bersepeda, serta rutin mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah secara berkala.
Bagi warga yang memiliki riwayat keluarga dengan penderita diabetes, hipertensi, atau gangguan ginjal, sangat disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Tes darah untuk mengukur kadar kreatinin dan laju filtrasi glomerulus (eGFR) serta tes urine (urinalisis) menjadi prosedur krusial untuk mendeteksi potensi kerusakan seawal mungkin.
Penanganan kasus gagal ginjal di Lamongan bukan sekadar penyediaan sarana medis cuci darah di rumah sakit, melainkan perubahan paradigma dari pengobatan menuju pencegahan dini di tingkat masyarakat.
Sinergi antara fasilitas kesehatan seperti RSUD dr Soegiri dan kesadaran preventif warga menjadi kunci penting dalam menekan lonjakan angka penderita gagal ginjal di masa mendatang. Dengan kepedulian yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari, masyarakat Lamongan diharapkan dapat menjaga kualitas hidup yang sehat dan tetap produktif. (Red)
